SD

May 2, 2011

iseng – iseng liat beranda di facebook ada 1 post punya teman yang membuatku serasa kembali ke masa antara tahun 1996 s.d. 2002. “kamu ***** dari SD K***** kn.?” (seseorang bertanya kepada teman saya). Tanpa permisi, kenangan pada tahun tersebut kembali terputar di kepalaku seperti layar tancep tahun 90-an (cuman nontonnya pake imajinasi). Saya masih lupa – lupa ingat ketika baru beberapa Minggu masuk SD, saya sudah harus memakai kacamata minus yang berukuran jumbo, yang lebih parah lagi pake rantai (kayak punya H. jaja Miharja yang dulu bawain kuis Dangdut “apaan tuh”..) haduhh,,kenapa waktu itu ibu saya memilihkan model frame yang se-gedhe gaban itu yah.? Padahal kalau yang kecil kn 11-12 lah ma superman..hhehehehehe.. (kaca mata paling awet karena sampai lulus SD pun kacamata itu masih bagus meski udah beberapa kali ganti kaca).

Dulu waktu kelas 2 SD ada teman saya bernama Maya dan Norma yang duduk 1 bangku. Pendapat saya sih Maya yang pinter dan Norma yang biasa saja (maap y Nor..:)). Ketika Ulangan PPKN waktu itu, (tiap habis ulangan biasanya buku ulangan tersebut dikumpulin di meja paling depan, abis istirahat di cocokkan) saya iseng buka – buka buku ulangan yang di kumpulin. Ternyata jawaban mereka sama semua. Saya ga ngerti waktu itu perasaannya iri karena mereka dapat nilai bagus terus atau naksir ala anak kucing…humf.. yang jelas –dulu– saya ga suka sama yang namanya nyontek.”catet”

Beranjak ke kelas 3 saya baru menemukan teman yang pandai matematika. Namanya Trendy ……….. siapa gitu, *lupa. Dia kulitnya item, kurus, kucel, dll (penampilan 11-12 lah –mbladus-nya kayak saya). *bingung mau cerita bagaimana,kasetnya agak korup, tapi yang jelas saya ketularan pinter matematika waktu itu..hehehehehe* pokoknya kelas 3 dan 4 itu antara matematika (mulai pinter pelajaran itu), trendy (pindah waktu kelas 4), Norma (masih setia dengan cinta anak kucing, malu-malu stress), renang dan pramuka, maen di taman depan sekolah tiap pulang. Yang seneng – seneng terlalu manis untuk dilupakan.:)

Yang paling saya ingat dari kelas 5 SD itu seorang teman yang bernama Alfin Yuliansyah. Saya saingan terus sama dia. Pernah waktu CaturWulan ke berapa gitu, jumlah nilai di rapor saya sama kayak dia, karena absennya Alfin itu sebelumku, jadi dia yang jadi rangking 2, saya ketiga. Terus yang paling stress jaman itu, kok mau-maunya ya saya, Alfin, n’ Wawan maju nyanyi campursari di depan kelas?? Singer-nya alfin, kami berdua cuman joget gitu. Kalau ga salah lagunya itu Plong-nya Didi Kempot. Saya cengar – cengir sendiri kalau inget-inget kejadian itu. Satu kata buat kita bertiga –sarap-.

Tahun terakhir, masa ini saya sudah beranjak menjadi akil-baligh, karena saya disunat kelas 6 SD..:) Masa-masa maen kelereng di belakang kelas, maen di kolam ikan samping kelas yang banyak ikan gobi, Tempat-tempat tersebut menjadi basecamp kami saat istirahat sekolah..:) Kesan saya buat ibu Hanna, terima kasih telah mendidik kami di tahun terakhir kami berada di SD tercinta ini, SDN PENDRIKAN UTARA 03-04 SEMARANG. Always in my heart.

Achmad Satiro Darmawan, Alfin Yuliansyah, Raditya Atmaja, Hendra pokwan, Nila Dika Persiana, Sukma Nor, Mochamad Bagas, Sarwono Nugroho Putra, Norma Herinta, Maya, Citra, trendy, Yessi Marcelina, Widiastuti,Widha, Tika Yulia Pertiwi, Ardhan Budi Utomo, Fertilina Hardiyani, Hani listyowati, Panji Saputra, Paramitha Anggia Putri, Refly Ade Sagita, Wisnu, Ian Kris, Noer Apriliano, Satrio mangkang, Risnanto Sabani, Triana, Vanni, Yossi Nur Arianto, Tyas Beringin, Ndas Delik, Dimas Danu, Rizky Arnando, Marta, Budi Nor Hidayat, Gilang, Nova, Irfan ndowi, Guntur, Sendi, Siska, Yunus, Ian cingur, Tutik, Neyla, ….. Ga tau lagi siapa, Bu Agnes, Bu Kartini, Bu Yati, Pak Supardi, Bu Hanna. mentok hardiskq nggo flashback suwe. Sebetulnya masih banyak kisah-kisahnya, tapi ga inget waktu pastinya, kayak saya sering maen kerumahnya Risnanto, maen kelereng di depan rumahnya Ardhan DLL… Semua kisah punya tempat di buku perjalanan hidupku. Terlalu manis untuk lupakan kata Slank..

Advertisements

Tomorrow will be better

December 1, 2010

Tomorrow Will Be Better

Esok akan lebih baik, sebuah kalimat yang beberapa hari ini selalu terdengar di telinga saya. Kalimat yang mengandung sebuah pemikiran yang positif, tegar, percaya diri, semangat ingin maju, dan optimis. Sebenarnya kalimat tersebut adalah judul dari sebuah lagu. Berikut liriknya.

Tomorrow Will Be Better

(*) When You Wake Up In The Morning
when You Haven’t Started To Think
there Is A Whole Brand New Day
open Wide And Waiting For You
i Know In Life’s Sorrow,
you’re On The Verge Of Drowning
may Your Tears Flea With Yesterday
blow Away With The Wind
 

when You Wake Up In The Morning
when You Haven’t Started To Think
the World Is Out There Calling Open
eyes To New Beginning
a Newborn Sun Is Shinning
chasing Shadows From Your Mind
everything Will Be Alive,
under The Sunshine’s Smile

(reff) come Out From Your Corner
no Doubt In Join Us
you Can Decide The Future
devote Your Youthful Power To This World
come Together, Hand In Hand Together
i Know You’ll Do
we Pray And Believe
that Tomorrow Will Be Better.
 

no, I Don’t Know What Your Name Is
but You’re So Familiar To Me
cause We Belong To One Family
you Can Hear My Heart Calling
life Can Be Music,
rainbows Can Be Reached
if You Face Yourself Truly
keep Striving For Your Dream


reff..


(*)


reff 4x

Ketika akhir – akhir ini saya merasa terbuai dengan keseharian saya yang monoton, (bukannya saya menyukai hal tersebut, tapi saya mencoba belajar ikhlas menerima keadaan hidup ini) ketika saya hampir melupakan warna – warni hidup saya, ketika saya hanya berjalan mengikuti arus air, sebuah semangat baru datang ketika tak sengaja teman saya yang sedang bermain laptop memutar lagu tersebut. Saya mendengarkan samar – samar lirik lagu tersebut..(come out from your corner…tomorrow will be better) subhanallah.. ga tau kenapa rasanya punggung saya agak merinding. Langsung saya minta di bluetooth lagu tersebut, dan saya putar ulang lagu tersebut. Lirik – liriknya seakan mempunyai power untuk mendorong saya akan sesuatu. Sebelum tidur, lagu tersebut saya putar lagi, dan karena suasana sunyi saat mau tidur tersebut, lalu saya teringat akan semua impian saya dulu, saya merasa masih mempunyai waktu untuk mewujudkan mimpi saya. Sekarang saya merasa optimis “mampu” untuk mewujudkannya..(aamiin ya Rabb). Sekarang saya merasa hari – hari yang monoton tersebut terasa lebih berwarna. (padahal masih monoton, tapi rasanya beda).

Buat yang mau download lagunya disini.


Diving part I

November 24, 2010

Tak terasa hari Jum’at (12/11/2010) pun tiba. Cuaca yang mendung membuat saya malas untuk bangun dari tempat tidur. Hari itu saya mempunyai rencana untuk ke KPPN untuk mengambil SP2D. Langsung tanpa ikut senam di kantor, pukul 08.30 (WITA) saya meluncur ke KPPN. Setelah semua urusan selesai, saya putuskan untuk balik ke kantor. Baru sampai di Wangurer, saya kehujanan, astaghfirullah, ga bawa mantel lagi (pikir saya waktu itu) tapi mau tak mau saya tetap melanjutkan perjalanan, walhasil, saya kehujanan. SP2D yang saya bawa pun agak basah, namun ga terlalu karena tas yang saya bawa terbuat dari parasit, jadi lumayan aman.

Hujan turun dengan deras, “bakal rak sido latihan diving ki”(bakal ga jadi latihan diving neh) batin saya, tapi ALLAH SWT berkehendak lain, setelah sholat Jum’at, hujan pun reda. (sorak-sorai dalam hati) y.. akhirnya saya bisa merasakan juga sebuah pengalaman yang mengasyikkan, yaitu diving.. 🙂 “hidup itu anugerah”, asal kita ikhlas dan sabar menjalaninya. Karena belum tentu kalau saya di Semarang bisa merasakan apa yang dinamakan diving, terpikirkan saja mungkin tidak..(secara pantai di Semarang ga ada yang bening) Setelah Jum’atan, makan, langsung saya dan teman – teman saya pergi untuk latihan diving di kolam renang Hotel Nalendra.

Sebelum kami mencoba alat – alat yang belum begitu familiar untuk kami, coach memberikan sedikit briefing pengetahuan dasar tentang nama alat – alat diving tersebut dan fungsinya. Kami dengan seksama mendengarkan arahan beliau, karena beliau itu master instruktur diving. Keren. Sekitar setengah jam beliau menjelaskan, akhirnya kami di persilahkan untuk merakit sendiri alat – alat diving kami. (menyusun alat tersebut hingga siap digunakan untuk penyelaman) Kesan yang tak terlupakan buat kami.

Setelah itu, kami langsung terjun ke kolam. Kami di suruh untuk lebih akrab dengan “teman baru” kami. Sungguh mengasyikkan sekali diving itu, serasa seperti ikan yang bisa bernafas di dalam air.. 🙂 hehe.. Di dalam kolam pun, coach memberikan sedikit latihan kompetensi dasar kami sebagai seorang diver pemula. Mulai dari mencopot regulator di dalam air dan memasangnya kembali, mencopot masker dan memasangnya kembali, mencopot BCD dan memasangnya kembali. Latihan tersebut sangat berguna sekali untuk menghadapi kemungkinan hal – hal buruk yang akan terjadi saat diving sungguhan nanti di laut.

Alhamdulillah, Kami lulus semua, karena memang tidak begitu sulit ternyata latihan – latihan tersebut. Setelah latihan selesai, kami di suruh untuk mengatur boyancy sendiri, mengatur keseimbangan di dalam air. Laksana ikan yang berenang bebas di air, saya pun merasakannya, Sekali lagi, sungguh mengasyikkan diving ternyata.  🙂 Makasih Ya ALLAH.

Ps : Kalau mau merasakan nikmatnya menyelam, mari jo ngoni samua singgah pa Bitung.. 🙂 ga bakal nyesel kwak..


mutasi pertama

November 3, 2010

12-09-2010, suasana lebaran masih terasa di desaku, Pati  karena baru 2 hari yang lalu saya lebaran di rumah bersama keluarga saya di Semarang. Malam itu hujan rintik – rintik seolah menumpahkan kesedihan seperti yang saya  alami saat itu. Malam itu saya akan berangkat ke Surabaya untuk esok paginya saya akan  meninggalkan pulau Jawa. Suatu hal yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

Hari itu pun tiba, hari dimana saya harus meninggalkan apa yang saya cintai untuk bekerja mencari sesuap nasi. Senin, 13-09-2010 hari itu tak akan terlupa, karena saya akan terbang ke suatu kota di Sulawesi Utara untuk waktu beberapa lama. Bitung, sebuah kota yang terletak di timur laut Tanah Minahasa, yang berada di kaki gunung duasaudara, disitulah saya sekarang tinggal. Rasa sedih, takut, dan penasaran menyelimuti hati saya. Sedih karena harus jauh dari keluarga dan seseorang yang saya cintai.. :-(, takut karena baru pertama kali naik pesawat (maklumlah karena keluarga saya sederhana), penasaran yang tidak terelakkan karena saya akan menuju suatu tempat yang asing bagi saya. Tapi, satu hal yang selalu menyemangati saya, “ini jalanku, ini hidupku”, “jadilah orang yang menakhlukkan dunia, jangan dunia yang menakhlukkanmu”. Kata – kata itu terus terngiang di telinga saya. Demi pengabdian pada negara dan sesuap nasi, akhirnya pukul  08.10 WIB saya dan teman – teman saya lepas landas dari bandara Internasional Juanda menuju bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado.

detik – detik keberangkatan (yang berangkat 6 orang, yang 1 memfoto)

Pukul 11.40 saya sudah sampai di Manado. Perbedaan waktu (GMT + 8) membuat saya bingung, tapi akhirnya saya mengerti juga.. Dari bandara Sam Ratulangi, kami langsung disambut oleh agen – agen taksi yang mencari penumpang di bandara, (jemput bola). Akhirnya kami naik taksi dengan tarif Rp. 150.000,00 sampai ke kota Bitung. Tarif yang normal memang, karena 1 taksi di isi 3 orang, jadi kami patungan 50rban. Dulu sebelum saya berangkat ke Manado, saya selalu di wanti – wanti kalau cewek Manado itu putih – putih, cantik – cantik, awas bisa kecantol. Subhanallah,,kesan pertama saya ketika perjalanan Manado – Bitung memang benar, kebanyakan cewek yang saya lihat itu seperti yang di wanti – wanti orang kepada saya. Terbesit sedikit rasa senang di hati saya. (wkwkwkwkwk).

Perjalanan ke kota Bitung memakai taksi sungguh suatu alternatif yang paling tepat menurut saya, karena selain saya belum pernah sama sekali pergi ke kota ini, dan juga bisa langsung sampai ke tempat tujuan. Selama perjalanan saya hanya diam dan berharap untuk cepat sampai di tempat tujuan. Hal yang di luar dugaan pun terjadi, setelah sekian lama saya tidak pernah muntah lagi waktu perjalanan ( dulu waktu kecil sering), hari itu saya muntah juga..(weeekkk) astaghfirullah,, mimpi apa saya semalam sehingga bisa naik taksi bersopirkan titisan michael sumacker (lebay mode on), pikir saya dalam hati. Karena taksinya pakai sedan metic, jadi pak sopirnya dengan leluasa memacu taksinya dengan kecepatan di atas 100 km/jam, (gilaa). Dengan gesit sopir itu mengemudikan taksinya. Perut saya yang belum terisi makanan sejak pagi terasa seperti di kocok – kocok, terombang- ambing, mual sekali. Dengan piranti seadanya, saya muntah di plastik yang sebelumnya saya jadikan bungkus sandal.. Hanya air yang keluar, karena memang perut saya masih kosong.

Sekitar 1 jam saya di dalam taksi, akhirnya saya sampai juga di tempat tujuan, lega rasanya. Suasana asri, sejuk, nyaman begitu terasa pertama kali tiba di rumah dinas. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika di Bitung, (1)“Bitung kotanya adem”.

kita pe rumah

Setelah berbasa – basi (perkenalan) sebentar dengan tetangga sebelah, saya dan teman – teman putuskan untuk mencari makan dulu, karena kami sudah lapar sekali saat itu, Baru berjalan beberapa puluh langkah di ujung lorong (gang) ada rumah makan yang bertuliskan (amurang “babi bakar tore”) busyet, astaghfirullah, sebagai seorang muslim, saya jadi takut untuk beli makan sembarangan. Kesan kedua yang saya dapat adalah (2)“hati – hati kalau beli makan”. Setelah sedikit berjalan – jalan, akhirnya kami putuskan untuk makan di warung padang saja. Saya memesan nasi+sayur+telur+es teh. Selesai makan, saya maju ke meja kasir, betapa terkejutnya saya karena harganya mahal sekali. Saya habis Rp.13.000,00 untuk 1 porsi tadi. Sungguh sebuah kesan negatif dan masuk ke dalam daftar ketiga kesan saya waktu itu adalah (3)“Ternyata Bitung lebih mahal dari Jawa”. Hummf..

Setelah sebulan lebih saya di Bitung ini, kesan – kesan yang saya dapat waktu pertama kali datang hampir semuanya benar, hanya kesan pertama saja yang salah. “Bitung kotanya panas” itu yang benar…